Semiloka Ekonomi Islam sebagai Sistem Pendidikan Ilmu Ekonomi di Indonesia PDF Print E-mail

Universitas Muhammadiyah Surakarta
13 - 14 Februari, 2009

Dasar Pemikiran

Proses berlangsungnya globalisasi ditandai dengan kemajuan sains dan teknologi, dan sebagai lokomotifnya adalah sistem kapitalisme sebagai icons dalam perekonomian global. Sistem ekonomi kapitalisme yang bebas (laissez faire) ternyata  melahirkan disparitas (kesenjangan) antara miskin dan kaya, antara masyarakat kuat dengan masyarakat lemah, negara maju dengan negara berkembang, hubungan antara ideologi, budaya, politik dan agama, tidak serta merta membuat wajah dunia menjadi seragam, sebaliknya konflik dan benturan semakin dahsyat, antara negara Barat dengan Timur, Utara dengan Selatan dan muncul isu-isu kemiskinan, kebodohan dan kebrobokan moral . Sistem ekonomi kapitalis menjadi mainstream economy system nyaris di semuai negara di dunia. Sistem ekonomi ini menyerahkan kedaulatan pada free market mechanism yang diatur oleh invisible hand dengan jiwa free market competition spirit dan tentu saja berlaku hukum rimba.

Prof. Dr. Suroso Imam Jazuli dalam bukunya berjudul Prinsip-prinsip Ekonomi Islam,  menyatakan bahwa  :
“ Sejak zaman Merkantilisme hingga dewasa ini paling tidak terdapat sepuluh sistem ekonomi besar di dunia yang telah gagal  untuk mencari jalan keluar atau memecahkan permasalahan pokok dalam ilmu ekonomi, antara lain  :  a) Merkantilis, b) Klasik dan NeoKlasik,  c)  Kapitalis,  d) Sosialis,  e)  Komunis,  f)  Sistem Ekonomi  Berencana  di  Dunia  Ketiga,  g) Monetary  Orde,  h) Orde  Strukturalis,  i)  Sistem  Ekonomi  Campuran,  dan  j)  Post  Industrial State  Economy.  Sistem  ekonomi  dunia  ini sebagian besar  cenderung  kearah sekularisasi.”

Sistem ekonomi konvensional yang sekuler  tersebut menyatakan bahwa urusan ekonomi sebaiknya diselesaikan dengan menggunakan the law of economic behavior dan bahwa agama dan moralitas tidak relevan dijadikan solusi bagi permasalahan ekonomi manusia.   

Sejarah telah mencatat bahwa sistem ekonomi konvensional tersebut bukan saja senantiasa gagal mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan, mulai dari krisis dan resesi ekonomi dunia di tahun 1930 an, krisis moneter, krisis ekonomi serta krisis multidimensi  pada  1997 yang lalu,  sampai dengan global financial crisis sekarang ini, hasilnya hanyalah justru bencana, kesengsaraan, dan penderitaan umat manusia pada umumnya.

Dr. Muhammad  Hatta,  founding  father republik ini mengingatkan di awal kemerdekaan negeri ini bahwa : “djiwa Islam berontak terhadap Kapitalisme jang menghisap  dan  menindas jang menurunkan deradjat manusia, jang membawa sistim jang lebih jahat dari pada perbudakan,  dari pada feodalisme”. Sedangkan Prof Dr. KH. Buya Hamka sering mensitir hadits Rasullah SAW berikut :“ Sesunggunhnya tegaknya suatu umat atau bangsa adalah kalau mereka  memegang tinggi akhlak dan jika akhlak ditinggalkan umatpun akan hancur “

Jarang juga disadari, bahwa mereka para pencetus teori ekonomi Klasik, baik Adam Sminth,  David  Ricardo, maupun John  Stuart Mill    pada  dasarnya  adalah pencetus pemikirian ekonomi untuk tujuan  “justifiksi kolonialisme  barat “  Pernyataan tentang hal itu justru dilontarkan dan dinyatakan oleh kalangan mereka sendiri,  seperti  halnya Prof.  Rowena  M. Lawson,  Prof. Joan Robinson,  dan  Prof. Hans  Singer  dari  University  of  Hull  dari  Inggris.
“Tidak  ada  suatu bangsa secara ikhlas membantu bangsa lain.  Motif dibalik hubungan ekonomi internasional baik berupa  hutang luar negeri maupun investasi asing adalah keuntungan semata -mata dalam bentuk penyedotan  surplus ekonomi.  Anda jangan lupa bahwa dedengkot teori ekonomi klasik yaitu Adam Smith, David  Ricardo, John Stuart Mill. Mereka adalah pencetus pemikiran ekonomi untuk tujuan justifikasi kolonialisme  barat “.

Demikian pula  Chapra,  melalui bukunya  Islam  and  Economic Development mengemukakan hal yang sama tentang kegagalan dari sistem- sistem ekonomi yang pernah diterapkan terdahulu, sehingga strategi baru untuk mengembangkan  perekonomian menjadi suatu keniscayaan.  Semua negara, khususnya negara berkembang kini memerlukan strategi baru untuk mengembangkan perekonomiannya. Kebijakannya yang dahulu berdasarkan kapitalisme atau sosialisme, terbukti telah gagal menwujudkan perekonomian yang berkeadilan yang berakibat terjadinya  ketidakseimbangan makroekonomi dan instabilitas nasional.

Oleh sebab itu perlu pengkajian konsep ekonomi Islam sebagai suatu solusi bagi negara - negara berkembang yang mayoritas adalah negara- negara Muslim dalam mengembangkan perekonomiannya. Konsep ini memiliki potensi untuk berhasil dalam mendorong pembangunan yang berkeadilan, membawa masyarakat kepada kesejahteraan yang insya  Allah  di  ridholiNya. Ekonomi syariah atau ekonomi Islam adalah ilmu  yang  mempelajari usaha manusia untuk  mengalokasikan  dan mengelola  sumber daya untuk mencapai al-falah  berdasarkan pada prinsip-prinsip dan  nilai-nilai Al-Qur’an  & Sunnah.

Karakteristik ekonomi Islam  adalah  rabbaniyyah  ( God oriented),  akhlaqiyyah ( ethics), logic,  progressive, civilized,  insaniyyah (humanistic),  dan bermoral. Karena bertumpu pada kesadaran bawa sumber daya dan alam semesta ini adalah milik Allah SWT  yang diamanahkan kepada manusia, sehingga dalam pengelolaan dan pemanfaatannya haruslah dalam rangka mencari ridho Allah SWT semata, dan untuk itu semua hanyalah apabila pengamalannya  sesuai syariah. Namun demikian, masalah yang mendasar adalah minimnya sumber daya manusia yang memiliki penguasaan ilmu ekonomi yang berbasis Islam.

Kondisi tersebut mendorong untuk mengambil langkah-langkah yang bersifat solutif. Membangun institusi pendidikan ekonomi Islam yang berkualitas menjadi suatu keniscayaan atau sebaiknya dibuka progdi ekonomi Islam secara tersendiri, di mana ekonomi Islam dapat dikembangkan secara komprehensif. Ekonomi Islam tidak hanya tentang perbankkan akan tetapi termasuk sektor lainnya.

Sebagai konsekwensi logisnya, mestinya ilmu ekonomi Islam seharusnya masuk dalam sistem pendidikan ilmu ekonomi di Indonesia. Sebagai sistem pendidikan tentunya diperlukan pengkajian antara lain struktur kurikulum Ekonomi Islam yang komprehensif yang mengacu pada penyusunan kurikulum pendidikan tinggi dan membedakan masing-masing jenjang. Di samping itu juga diperlukan pengkajian tantangan dan potensi calon lulusan. Perlu di sadari bahwa sistem ekonomi Islam tidak hanya diperuntukkan umat Islam, tetapi juga berdampak positif bagi umat non Islam.

Tujuan Kegiatan
Untuk memberikan masukan dan mempercepat  pendidikan ilmu ekonomi Islam sebagai sistem pendidikan ilmu ekonomi di Indonesia

Peserta
1. Perwakilan atau utusan dari Perguruan Tinggi Islam se-Indonesia
2. Forum Dekan Ekonomi PTM se Indonesia
3. Para praktisi ekonomi syariah


Pembicara terdiri dari para akademisi, praktisi atau pengguna lulusan:
1. Prof. Dr. Bambang Sudibyo (Mendiknas RI)
2. Prof. Dr. Veithzal Rivai
3. Prof. Dr. Suroso Imam Jazuli
4. Dr. Syafi'i Antonio
5. Prof. Dr. Edy Suandi Hamid
6. Mustafa Edwin Nasution, PhD (UI)
7. Dr. Zuhdi A. Ramsi
8. Prof. Dr. M. Aslam Haneef
9. Prof. Dr. Sofyan Syafri Harahap
 

Agenda Acara

Hari 1
Jum’at, 13-02-2009 
08.00 - 09.00 Registrasi Peserta dan Chek in 
09.00 - 11.00 Pembukaan
  1. Sambutan dan Laporan Ketua Panitia
       Ikhwan Susilo, SE, M.Si.
  2. Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta
   Prof. Dr. Bambang Setiadji
  3. Keynote Speech oleh Mendiknas
   Prof. Dr. Bambang Sudibyo 
11.00 - 13.00 Ishoma 
13.00 - 15.00 Seminar : Tantangan Ekonomi Islam sebagai Program Studi
  Pembicara  1 : Prof. Dr. Veithzal Rivai, MBA
  Pembicara  2 : Prof. Dr. Suroso Imam Jazuli
  Pembicara 3  : Dr. Ramsi A. Zuhdi
  Pembicara 4  : Prof. Dr. M. Aslam Haneef
  Moderator     :  Dr. Triyono, M. Si  
15.00 - 15.30 Ishoma 
15.30- 17.30 Seminar : Mutu Kurikulum Ekonomi Islam dan Pangsa Pasar Lulusan
  Pembicara 1  : Dr. Syafei Antonio
  Pembicara 2  : Prof. Dr. Sofyan Syafri Harahap
  Pembicara 3  : Prof. Dr. Edy Suandi Hamid
  Pembicara 4  : Mustafa Edwin Nasution, PhD (UI)
  Moderator    :  Drs. Yuni Prihadi Utomo 

Hari 2

Sabtu,   14-02-2009
 
09.00 - 15.00 Lokakarya 1  : Perumusan Kurikulum Ekonomi Islam Aspek Ilmu Ekonomi
  Fasilitator : Drs. M. Safar Nasir, M.Si
  Notulen    : Didit Purnomo, SE, M.Si.

  Lokakarya 2  : Perumusan Kurikulum Ekonomi Islam Aspek Syariah
  Fasilitator   : Dr. Haedar Nasir,M.Si
  Notulen   : M. Sholahuddin, SE, M.Si.

  Lokakarya 3  : Perumusan Kurikulum Ekonomi Islam Aspek Manajemen dan Akuntansi
  Fasilitator     : Dr. Triyono, M.Si
  Notulen         : Drs. Ahmad Mardalis, MBA

12.00 – 13.00 Ishoma 
13.00 - 15.00 Paparan Hasil Lokakarya 
20.00 Penutup 

 Prof Dr Sofyan Harahap 
  UMS
  Prof Syahrir Tanjung
  Prof Dr Aslam Haneef
  UMS
  Dr. Dasron Hamid - Rector UMY
  UMS