Islamization of Knowledge

Ke Arab sebuab Epistemologi Terpadu: Sebuah Tawaran Kepada UIN Jakarta

Problem

• Perubahan dari IAIN ke UIN telah menimbulkan banyak problem epistemologis, yang harus segera dicarikan jalan keluamya.
• Problem tersebut pada dasarnya bermuara pada adanya dikotomi ilmu antara ilmu agama di satu pihak, dengan ilmu umum. 
• Walaupun dikotomi tersebut telah lama dikenal dalam dunia Islam, tetapi itu tidak sampai kepada penolakan status ilmiah masing-masing. Tapi dalam sistem keilmuan modern, dikotomi ilmu agama dan ilmu umum telah sampai pada taraf penolakan validitas keilmuan masing-masing kelompok ilmu tsb. Dikotomi di atas di masyarakat Indonesia telah menimbulkan kesan yang keliru bahwa hanya ilmu agama yang memiliki nilai religius, sedangkan ilmu umum sepenuhnya profan. 
• Problem lain dari dikotomi seperti itu adalah timbulnya kesenjangan tentang sumberi lmu. Para pendukungi lmu agama hanya menganggap sah sumber-sumber ilahi, sedangkan ilmuwan sekuler menganggap sah hanya infromasi yang diperoleh melalui pengamatan inderawi. 
• Dikotomi  yang ketat di antara dua kelompok ilmu itu juga telah menimbulkan perbedaan pendapat tentang entitas apa saja yang bisa dipandang sebagai objek yang sah dari ilmu.
• Demikian juga dikotomi tersebut  telah menimbulkan disintegrasi klasifikasi ilmu. Sains modern cenderung hanya memfokuskan diri hanya pada cabang ilmu fisika, sementara banyak sarjana Muslim seperti a l-Ghazali cenderung memberi penekanan yang lebih kuat pada i lmu-ilmu agama. 
• Dikotomi ini juga telah menimbulkan problem dalam bidang metode ilmiah. Sains modern menggunakan hanya metode observasi, sedangkan sistem keilmuan Islam, dengan keyakinannya pada entitas-entitas ghaib, mau tak mau harus menggunakan metode i lmiah yang lain, seperti metode burhani, irfani dan bayani.

Islamization of Knowledge in Indonesia

A. BACKGROUND

• Traditional Islam: Eclectic Islam (NU)

Islam came to Indonesia through trade, in the form of mysticism. It became an eclectic religion, in which various traditions were blended into a unique form. This form has grown and passed into generations and formed the Sunnite majority of Indonesian people (with Ash’arite and Shafi’ite persuasion) and later was crystallized politically and socially into Nahdhat al-‘Ulama’ (NU), representing the traditional Islam. It is against this traditional Islam as background, that most of  the Islamic reforms were launched, and should be understood.

Subscribe to this RSS feed
DMC Firewall is a Joomla Security extension!